Waktu telah menunjukan hampir jam
10 malam, sang ibunda berusaha menyuruh Budi untuk tidur namun si Budi enggan beranjak dari
televisi, dirinya masih ingin menyaksikan tim nasional Indonesia bertanding di
final sea games melawan thailand, dari raut wajahnya terlihat si budi seperti
ingin meneteskan air mata tanda kesedihan yang dalam di hatinya, waktu di kaca
televisi menunjukan batas batas akhir pertandingan, dirinya sempat beranjak
dari bangku yang iya duduki bergerak mendekat menuju
televisi yang berukuran 21 inchi pemberian pamannya ini, dirinya terperangah saat pahabol bergerak
melawati pemain belakang Thailand namun tendangannya masih jauh di atas mistar,
"yak pahabol nyaris saja" begitu suara komentator terbunyi nyaring di
depan telinga Budi yang memang hanya berjarak beberapa meter saja dari
televisi.
Waktu pun habis peluit pun berbunyi, Budi si anak semata wayang keluarga pak Bambang ini tak bisa menahan air matanya, tak percaya
bahwa tim nasional yang iya banggakan harus kembali gagal di final, tangis pun pecah, air mata keluar dari kedua mata Budi, sang ibu
pun datang dan memeluk Budi yang tengah menangis meronta-ronta, sang ibu pun
berkata "Sudah mereka sudah bermain baik, memang nasib mereka yang kurang
beruntung, sudah jangan menangis lagi nak", bukannya berhenti tanggis Budi
semakin menjadi-jadi, dirinya menangis lebih keras ketimbang saat dirinya jatuh
dari motor saat ayahnya mengajarkan dia untuk naik motor di lapangan dekat
rumah, dirinya lebih sedih ketimbang saat menghadiri pemakaman neneknya yang
baru saja meninggal sebulan yang lalu, hingga akhirnya tanggis si Budi pun terhenti
karena tertidur di pangkuan sang ibu yang terus membujuknya agar menghentikan
tangisannya.
Budi yang kini duduk di bangku
kelas 5 SD ini tak terima timnas yang dia sayangi kembali kalah, kini perasaannya
berantakan, apa yang harus dirinya katakan nanti kepada temannya karena banyak dari mereka adalah Fans MU dan Liverpool dimana di malam
itu kedua tim tersebut menang, sedangkan si Budi yang "ngefans" berat
dengan tim nasional harus menyimpan malu karena kalah melawan tim Thailand,
"Apa yang harus aku katakan kalo bertemu mereka?".
Budi memang unik, bocah yang
bulan depan akan berusia 11 tahun ini tidak suka menggemari Liga Inggris atau
liga-liga besar eropa lainnya, dirinya lebih suka menyaksikan tim kesayangan ditempat
tinggalnya Persikad Depok yang bermain di Divisi Utama, dirinya tak pernah meninggalkan satu pertandingan
pun ketika tim yang berjuluk Serigala Margonda ini bermain di Stadion
Merpati, hal ini disebabkan oleh pamannya yang bernama Iskandar yang akrab di
panggil Pa'le Iskan dimana dirinya selalu mengajak Budi menyaksikan Persikad di tiap
minggunya, meski Budi tahu bahwa Persikad bukanlah tim yang hebat tapi dirinya
merasa bangga karena Persikad adalah pahlawan Kota Depok, para punggawa
Persikad dia sejajarkan dengan 25 Nabi yang dia pelajari di tempat ia mengaji,
dirinya begitu menggandrugi Persikad dan dirinya berharap suatu saat dapat
membela Persikad dan masuk timnas, Budi selalu berkata itu di depan pamannya
dan pamannya selalu menyambutnya dengan teriakan "Kamu pasti bisa!!!".
Setelah terjaga dari tidur malam
yang panjang si Budi mendapati dirinya sudah berada di bangku dekat ruangan
televisi, dan dirinya pun terkejut karena di depannya sudah ada pamannya yang
datang di pagi hari itu untuk membangunkannya, "Ayo Budi kita sarapan"
ujar pamannya, Budi yang masih "setengah tidur" pun berusaha
terbangun dan bangkit, sambil mengucek-ngucek mata dirinya pun menyapa pamannya sambil berkata "Paman
apakah aku bermimpi ?" ucap si Budi, sang paman pun binggung dan berkata
" Mimpi kenapa memangnya Budi ?, lalu si Budi pun berkata "Semalam
aku menyaksikan timnas yang bermain tanpa mengenal lelah, berusaha untuk
menjadi juara, tapi aku sedih paman, di mimpiku ternyata timnas akhirnya kalah, tapi itu hanya mimpi kan ?".
Sang paman yang tengah berdiri
pun duduk di samping Budi yang baru saja trbangun tadi dan berucap "Budi
keponakan yang paling paman sayangi, maaf Budi yang kamu ceritakan bukan lah
mimpi, semalam tim nasional kita memang kalah, meski begitu mereka telah menunjukan
semangat tanpa menyerah, bertanding hingga titik darah penghabisan, semangat
itulah yang bisa kamu petik untuk kamu ambil bahwa dalam hidup hal-hal indah
memang sulit direbut, namun kita sebagai manusia layak untuk
memperjuangkan" kata sang paman, mendengar kalimat tersebut si Budi yang
masih baru saja terbangun kembali memejamkan mata seraya berkata "Paman,
aku tidur lagi yah, aku tak mau bangun sampai timnas menang" dan perkataan
Budi pun di sambut dengan senyuman palsu sang paman yang ternyata sama
terlukanya dengan Budi.

0 komentar:
Post a Comment