Saturday, 21 December 2013

Hikayat Budi dan Sepakbola Indonesia

Posted in , , , ,   with  No comments    

Waktu telah menunjukan hampir jam 10 malam, sang ibunda berusaha menyuruh Budi untuk tidur namun si Budi enggan beranjak dari televisi, dirinya masih ingin menyaksikan tim nasional Indonesia bertanding di final sea games melawan thailand, dari raut wajahnya terlihat si budi seperti ingin meneteskan air mata tanda kesedihan yang dalam di hatinya, waktu di kaca televisi menunjukan batas batas akhir pertandingan, dirinya sempat beranjak dari bangku  yang iya duduki bergerak mendekat menuju televisi yang berukuran 21 inchi pemberian pamannya ini, dirinya terperangah saat pahabol bergerak melawati pemain belakang Thailand namun tendangannya masih jauh di atas mistar, "yak pahabol nyaris saja" begitu suara komentator terbunyi nyaring di depan telinga Budi yang memang hanya berjarak beberapa meter saja dari televisi.

Waktu pun habis peluit pun berbunyi, Budi si  anak semata wayang keluarga pak Bambang ini tak bisa menahan air matanya, tak percaya bahwa tim nasional yang iya banggakan harus kembali gagal di final, tangis pun pecah, air mata keluar dari kedua mata Budi, sang ibu pun datang dan memeluk Budi yang tengah menangis meronta-ronta, sang ibu pun berkata "Sudah mereka sudah bermain baik, memang nasib mereka yang kurang beruntung, sudah jangan menangis lagi nak", bukannya berhenti tanggis Budi semakin menjadi-jadi, dirinya menangis lebih keras ketimbang saat dirinya jatuh dari motor saat ayahnya mengajarkan dia untuk naik motor di lapangan dekat rumah, dirinya lebih sedih ketimbang saat menghadiri pemakaman neneknya yang baru saja meninggal sebulan yang lalu, hingga akhirnya tanggis si Budi pun terhenti karena tertidur di pangkuan sang ibu yang terus membujuknya agar menghentikan tangisannya.

Budi yang kini duduk di bangku kelas 5 SD ini tak terima timnas yang dia sayangi kembali kalah, kini perasaannya berantakan, apa yang harus dirinya katakan nanti kepada temannya karena banyak dari mereka adalah Fans MU dan Liverpool dimana di malam itu kedua tim tersebut menang, sedangkan si Budi yang "ngefans" berat dengan tim nasional harus menyimpan malu karena kalah melawan tim Thailand, "Apa yang harus aku katakan kalo bertemu mereka?".

Budi memang unik, bocah yang bulan depan akan berusia 11 tahun ini tidak suka menggemari Liga Inggris atau liga-liga besar eropa lainnya, dirinya lebih suka menyaksikan tim kesayangan ditempat tinggalnya Persikad Depok yang bermain di Divisi Utama, dirinya tak pernah meninggalkan satu pertandingan pun ketika tim yang berjuluk Serigala Margonda ini bermain di Stadion Merpati, hal ini disebabkan oleh pamannya yang bernama Iskandar yang akrab di panggil Pa'le Iskan dimana dirinya selalu mengajak Budi menyaksikan Persikad di tiap minggunya, meski Budi tahu bahwa Persikad bukanlah tim yang hebat tapi dirinya merasa bangga karena Persikad adalah pahlawan Kota Depok, para punggawa Persikad dia sejajarkan dengan 25 Nabi yang dia pelajari di tempat ia mengaji, dirinya begitu menggandrugi Persikad dan dirinya berharap suatu saat dapat membela Persikad dan masuk timnas, Budi selalu berkata itu di depan pamannya dan pamannya selalu menyambutnya dengan teriakan "Kamu pasti bisa!!!".

Setelah terjaga dari tidur malam yang panjang si Budi mendapati dirinya sudah berada di bangku dekat ruangan televisi, dan dirinya pun terkejut karena di depannya sudah ada pamannya yang datang di pagi hari itu untuk membangunkannya, "Ayo Budi kita sarapan" ujar pamannya, Budi yang masih "setengah tidur" pun berusaha terbangun dan bangkit, sambil mengucek-ngucek mata dirinya pun menyapa pamannya sambil berkata "Paman apakah aku bermimpi ?" ucap si Budi, sang paman pun binggung dan berkata " Mimpi kenapa memangnya Budi ?, lalu si Budi pun berkata "Semalam aku menyaksikan timnas yang bermain tanpa mengenal lelah, berusaha untuk menjadi juara, tapi aku sedih paman, di mimpiku ternyata timnas akhirnya  kalah, tapi itu hanya mimpi kan ?".

Sang paman yang tengah berdiri pun duduk di samping Budi yang baru saja trbangun tadi dan berucap "Budi keponakan yang paling paman sayangi, maaf Budi yang kamu ceritakan bukan lah mimpi, semalam tim nasional kita memang kalah, meski begitu mereka telah menunjukan semangat tanpa menyerah, bertanding hingga titik darah penghabisan, semangat itulah yang bisa kamu petik untuk kamu ambil bahwa dalam hidup hal-hal indah memang sulit direbut, namun kita sebagai manusia layak untuk memperjuangkan" kata sang paman, mendengar kalimat tersebut si Budi yang masih baru saja terbangun kembali memejamkan mata seraya berkata "Paman, aku tidur lagi yah, aku tak mau bangun sampai timnas menang" dan perkataan Budi pun di sambut dengan senyuman palsu sang paman yang ternyata sama terlukanya dengan Budi.

0 komentar:

Post a Comment