Wednesday, 18 December 2013

Madiba dan Sepak Bola

Posted in , , , ,   with  No comments    
"Kematian adalah salah satu yang tak terelakkan. Ketika seorang manusia yang telah melakukan apa yang ia anggap sebagai tugasnya untuk rakyat dan negerinya, dia bisa beristirahat dengan damai. Saya percaya saya telah mewujudkan upaya itu, oleh karena itu, kenapa saya akan tidur untuk selamanya." (Dari sebuah wawancara film dokumenter Mandela 1994)"

Madiba dan Influence


Nelson Mandela atau yang akrab di panggil Madiba (Nama xhosa) memang telah meninggalkan kita semua, wafat diusianya yang mencapai 95 tahun hingga akhir hidupnya dia tetap menyuarakan anti apartheid sebuah gerakan yang menolak pemisahan ras antara kulit hitam dan kulit putih, sebuah gerakan yang meng-influence hingga keseluruh aspek kehidupan termasuk Sepak Bola di dalamnya.

"Say No To Racism" adalah gerakan anti rasisme dalam sepakbola yang bertujuan menjauhkan diskriminasi baik dalam bentuk apapun terhadap negara, pribadi maupun ras, warna kulit, etnis, status sosial bahasa dan agama, serta menjauhkan segala aktivitas politik dan organisasi di luar sepak bola. 

Madiba yang Fans Liverpool


Madiba begitu nama akrab sapaan bagi Nelson Mandela ini merupakan penggemar sepak bola tulen, dirinya secara terang-terangan mengaku sebagai fans berat Liverpool saat Liverpool mengadakan tour ke Afrika Selatan dengan event bernama "World Tour Of Hope" , dirinya mengaku selalu mengikuti perkembangan Liverpool melalui siaran radio saat dirinya di penjara dalam memperjuangkan anti apartheid, dirinya juga di berikan hadiah jersey dari kapten the reds Liverpool saat itu John Barnes.

Mandela dan Tender Piala Dunia


Kecintaan terhadap sepakbola terus berlanjut, dirinya termasuk dalang di balik menang nya tander negara Afrika Selatan sebagai penyelenggara Piala Dunia pertama di Afrika dan sekaligus merupakan Piala Dunia terbaik yang pernah ada, kita masih bisa mengingat bagaimana bisingnya Vuvuzela berkumandang bersahutan di hampir 90 menit pertandingan tak pernah henti. Meski Afrika Selatan yang saat itu di perkuat oleh Steven Pienar dan kawan kawan tak berhasil lolos ke babak selanjutnya namun berhasil menunjukan wajah Afrika yang telah 100% menghapus apartheid di sepakbola dengan bukti bahwa pemain veteran Matthew Booth yang menjadi pemain kulit putih di antara pemain yang berkulit hitam di negar Afrika Selatan yang bahu membahu membangun sepakbola disana tanpa mengenal warna kulit atau ras, sungguh contoh yang menakjubkan dan membuka mata dunia.

Kemunculannya sebagai salah satu tokoh penting dunia di Final Piala Dunia 2010 yang di menangkan Spanyol ini menunjukan bahwa dirinya adalah penggemar sepakbola, di usianya yang saat itu sudah sangat tua ditambah sakit yang berkepanjangan tak membuat lelaki yang menyukai batik ini enggan berkunjung ke Stadion, kedatangannya disambut meriah oleh 85 ribu pasang mata yang memadati seantero Stadium, senyumannya yang khas membuat final Piala Dunia semakin meriah.

Simpati Dari Pemain Sepakbola


Kehilangan dirinya merupakan duka bagi dunia tak terkecuali dunia Sepak Bola, dunia yang juga di cintai oleh Nelson Mandela, ribuan ucapan bela sungkawa mengalir deras, salah satunya adalah duet Pantai Gading Didier Drogba dan kolega satu klubnya Emmanuel Eboue dimana keduanya dengan kompak menunjukan simpati dengan tulisan yang berada di kaos mereka seusai pertandingan Galatasaray melawan Elazgispor di lanjutan Liga Turki, Didier Dgroba menuliskan "Thank you Madiba" (Terima Kasih Madiba) sedangkan Emmanuele Eboue menuliskan "Rest In Peace Nelson Mandela" (beristirahatlah dengan tenang Nelson Mandela), meski mereka tahu sebenarnya menuliskan hal tersebut adalah sebuah tindakan yang melanggar mereka tetap memakainya, walau akhirnya tindakan mereka tidak di kenai sanksi.
"Jika Anda ingin berdamai dengan musuh Anda, Anda harus bisa bekerja sama dengan musuh Anda. Kemudian dia akan menjadi mitra Anda." (Long Walk to Freedom)" 
Selamat tinggal Madiba.

0 komentar:

Post a Comment